Vitamin C merupakan vitamin larut air dan berfungsi sebagai antioksidan. Pada kulit, vitamin C berfungsi sebagai foto proteksi dan juga produksi kolagen, yang dibutuhkan dalam pembentukan jaringan di tulang, gigi dan tulang rawan. Vitamin C juga berfungsi dalam proses penyembuhan luka, imunitas atau kekebalan tubuh, dan juga sebagai anti oksidant larut air. Seiring dengan bertambahnya usia, cadangan vitamin C ikut berkurang, dan dapat diperparah dengan kebiasaan merokok.

Vitamin C tidak diproduksi oleh tubuh, hanya bisa didapatkan dari luar melalui suplemen oral ataupun dari bahan makanan. Dan untuk permukaan kulit, dapat melalui penggunaan obat topical (oles) seperti serum vitamin C. Salah satu fungsi vitamin C pada kulit adalah untuk mengurangi hiperpigmentasi dengan cara menghambat kerja dari enzim tyrosinase, yaitu enzim yang berfungsi sebagai enzim utama sintesis (pembentukan) melanin. Selain itu vitamin C juga dapat mencegah dampak dari sinar ultraviolet pada kulit. Sebagai anti oksidant, vitamin C dapat mengurangi resiko terhadap kanker, dan juga efek dari penuaan. Tanda-tanda kekurangan vitamin C adalah gusi berdarah, nyeri sendi, mudah lebam atau memar, kulit kering.

Dosis yang disarankan untuk vitamin C adalah 75mg/hari untuk wanita dan 90mg / hari untuk pria. Untuk perokok membutuhkan tambahan 35 mg/ hari karena adanya peningkatan resiko stress oksidatif. Batas maksimal konsumsi vit C adalah 2000 mg/hari. Sumber makanan yang kaya akan vitamin C adalah jeruk, strawberi, kiwi, papaya, paprika, brokoli. Vitamin C relative aman dalam dosis tinggi, akan tetapi bila konsumsi diatas 2g / hari dapat menimbulkan gejala seperti diare, mual, nyeri perut, jumlah urin berkurang, dan ruam kulit.